HENTIKAN PSB JALUR NON-AKADEMIK

Juli 8, 2007 at 7:58 pm 7 komentar

Perlunya Dibuat Sekolah Khusus Untuk Atlet di Tiap Daerah

Adanya budaya dan anggapan tentang sekolah unggulan dan sekolah ‘pinggiran’ di Indonesia menyebabkan para orang-tua ingin menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah favorit bagaimanapun caranya. Bagi anak yang memiliki kemampuan akademis yang baik tentunya bukan masalah sulit masuk ke SMP/SMA favorit, tapi bagi mereka yang hanya ingin memaksakan diri demi mengejar sebuah gengsi tentu ini menjadi masalah yang sulit.

Penerimaan siswa baru (PSB) jalur non-akademis lah salah satu jalan bagi mereka yang ingin masuk ke sekolah favorit. Bayangkan satu sekolah saja (contoh SMAN 5 BANDUNG) yang reputasinya masuk sekolah favorit menerima pendaftar dari jalur ini sebanyak 117 orang!! dan SMA favorit di Kota Bandung ada sekitar 5-6 sekolah.

Alasan kenapa PSB non-akademik harus dihapus adalah karena sistem penerimaan ini rawan akan kecurangan. Tidak transparannya sistem penerimaan lewat jalur non-akademis ini selalu memancing marah ratusan orang-tua siswa yang anaknya tersingkir gagal mendapat kursi di sekolah favorit. Tentunya hal ini sudah berulang-ulang terjadi setiap tahunnya dan tak berubah sama sekali.

Saya sendiri pernah melihat langsung seleksi non-akademis calon siswa untuk masuk SLTPN 5 Bandung. Pada saat itu tes yang akan dilakukan adalah tes renang tempatnya di SABUGA-ITB. Memang ada sebagian siswa yang berbakat, tapi yang lainnya hanya terkesan memaksakan ikut bahkan ada yang baru bisa berenang, bukankah itu memalukan??? Tidak bisa berenang malah ikut seleksi jalur atlet renang….(itu orang punya otak gak sih?)

Tapi anehnya ada saja orang-orang yang gagal dalam tes tapi malah diterima. Saya jadi teringat masa SMA saat itu ada seorang teman saya yang mengaku masuk lewat jalur karate tapi ternyata pengetahuan dia tentang jurus-jurus karate (KATA) nol besar! Di sekolahnya pun terlihat dia selalu tertinggal dalam pelajaran, semangat belajarnya drop, dan hampir tidak naik kelas.

Ada beberapa solusi menurut saya yang bisa diambil :

Pertama
Perlunya pemerataan kelengkapan sarana dan prasarana belajar di setiap sekolah baik itu yang berada di kota ataupun di pinggiran kota. Pemerataan ini harus melingkupi fasilitas belajar seperti laboratorium IPA, lab. komputer bahkan internet dan hotspot. Lalu pemerataan kualitas guru, guru-guru yang bertitel S1 bahkan S2 cenderung lebih banyak mengajar di sekolah ‘kota’ ketimbang ‘pinggiran’.

Kedua
Perlunya dibuat sekolah-sekolah khusus, terutama sekolah khusus atlet. Sampai saat ini sekolah khusus atlet hanya dimiliki oleh Jakarta yaitu di daerah Ragunan. Tentunya sekolah seperti itu dibangun pula di wilayah-wilayah lainnya. Sangat tidak nyambung bila anak yang berbakat atlet disuruh untuk bersaing dengan anak yang berbakat menjadi scientist. Ingat Every man in the right position.

Sekian, Terima Kasih.

Entry filed under: Umum. Tags: .

STUDI DI AS LEBIH CEPAT LULUS Hilangnya Hak Bermain bagi Pelajar

7 Komentar Add your own

  • 1. norjik  |  Juli 8, 2007 pukul 11:52 pm

    Mas salam kenal ya

    Balas
  • 2. Wisnu  |  Juli 9, 2007 pukul 9:14 pm

    Every man in the right position….
    Siip banget!!!!

    memang aneh ya orang Indonesia, udah ada sekolah deket rumah eh malah nyari yang jauh ama rumahnya….

    Balas
  • 3. atha  |  Juli 17, 2007 pukul 8:04 pm

    waw
    iya bgt
    tmen saya yg tajir abis msuk sma3 bdg lwat jalur atlet
    pas tes dya ga kterima
    daaan
    tba2 dya kterima bbrapa hr sblum masuk sklh
    amit2
    ga transparan bgt sih!!
    x(

    Balas
  • 4. hari yuliarto  |  Januari 20, 2009 pukul 11:02 am

    Yang salah sistem seleksinya dan ketidakberesan panitianya (mungkin) tapi jangan dihapus jalur Nonakademisnya. Jangan ada diskriminasi, karena prestasi tdk hanya di jalur akademis, seni dan olahraga juga harus dipertimbangkan utk dihargai (lihat Permendiknas No 34 tahun 2006), sangat berat lho meraih prestasi di bidang ini. Justru pemerintah khususnya di setiap satuan pendidikan (sekolah) harus berani mengimplementasikan kebijakan Mendiknas yang tertuang dalam Permendiknas itu. Masalah kecurangan dalam seleksinya mari bersama-sama kita mengeliminirnya. Jayalah prestator Olahraga dan Seni siswa-siswa Indonesia, semoga bisa membawa nama harum Bangsa dan Negara.

    Balas
  • 5. Ganjar Ramadhani Putra  |  April 10, 2009 pukul 2:32 pm

    Tapi kalo misalkan siswa itu benar-benar berprestasi, ya sah-sah saja. karena belajar itu merupakan suatu proses, dimana yang kurang baik menjadi lebih baik.
    Jadi memang harus ada seleksi yang lebih ketat lagi bagi peserta yang mengikuti seleksi jalur Non-akademis.
    saran saya ya ga apa-apa kalo ada yang mau lewat jalur prestasi, asal dia memang berprestasi dalam bigangnya.

    Balas
  • 6. Mas Bei  |  Mei 20, 2009 pukul 5:31 pm

    Selama siswa itu benar-benar berprestasi dalam bidang olah raga ataupun seni, dia juga berhak mendapat penghargaan, dan betul sekali prestasi bukan hanya bidang akademik saja, tapi yang harus dibenahi Sistem Seleksi dan Pelaksanaan Seleksinya.
    Tidak kalah pentingnya juga kebijakan orang tua , kalau memang anaknya kemampuannya kurang dari pas-pasan ya jangan memaksa ke sekolah favorit yang standarnya tinggi, paling tidak si anak tidak kerepotan mengikuti pelajaran di sekolah tersebut.
    Tetapi apapun alasannya Jalur Non akademis jangan dihapus, Bravo Olahraga dan seni, Hargailah prestasinya bangsa sendiri

    Balas
  • 7. tamara  |  Juni 9, 2009 pukul 7:29 am

    Asal atletnya pintar banget sih gak apa-apa. kalau lihat di Amerika (dari film) banyak para pelajar atlit yang ber-beasiswa. Pada saat prestasi belajar merosot, saat itu dia diberhentikan. jangan sampai sudah jenjang SMP ada rekan atlet yang membaca saja masih tidak lancar.

    Ngomong-ngomong….saat ini ada yang lebih tidak transparan lagi…..yaitu jalur RSBI……..yang pintar banget hanya separuhnya……sisanya……kayaknya rekan-rekan itu gak pernah berprestasi apa-apa deh……..Aduh…mau sekolah aja kok susah banget ya……..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Pelajar

Pelajarpun Boleh Bicara adalah sebuah blog yang dikhususkan bagi para pelajar di seluruh Indonesia untuk bicara bebas mengenai pendidikan. Jangan mau dijadikan kelinci percobaan pemerintah saja. Mari kita bicara!!!

Terbaca

  • 129,149 kali

Arsip

Pesan-Pesan

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

%d blogger menyukai ini: