Hilangnya Hak Bermain bagi Pelajar

Juli 11, 2007 at 6:25 pm 2 komentar

Assalamu’alaikum wr, wb.

Orang Tua Memiliki Kekhawatiran Berlebih Saat Anaknya Bermain

Sebelumnya saya mohon maaf tidak bisa posting artikel ataupun tulisan dalam beberapa hari terakhir. Maklum saya disibukkan dengan acara ‘Perpisahan Kelas’. Seperti sudah lazim terjadi saat ini pada waktu libur kenaikan kelas para siswa mengadakan acara pergi bertamasya bersama bahkan ada yang sampai menginap beberapa hari. Saya pun mengalami hal demikian, pada H-1 saya sibuk check-up mobil soalnya mau dipakai untuk mengangkut teman-teman. Lalu pada hari-H tentunya saya sedang berada di wilayah LEMBANG selama 2 hari satu malam.

Sepulang dari acara tersebut saya mendapatkan berbagai pengalaman terutama saat bermain dengan teman-teman saya.

Berbicara tentang “Bermain” kadang kita berpikir bahwa bermain itu adalah kebalikan dari belajar. Hal itu adalah salah besar. Karena dengan melakukan berbagai permainan tertentu kitapun bisa mendapatkan berbagai manfaat yang bahkan lebih dari manfaat jika kita belajar secara formal.

Sungguh menyedihkan saat saya membaca artikel dari harian PIKIRAN-RAKYAT yang berjudul “Anak-anak Indonesia Enggan Bermain”. Ternyata semakin berkembangnya teknologi dan pembangunan di masyarakat malah mengorbankan hak-hak bagi anak-anak (pelajar) untuk bermain.

Menurut hasil riset, play and physical quotient (PQ), merupakan faktor penting untuk menilai dan mengukur kemampuan fisik seorang anak dalam melakukan berbagai aktivitas dan permainan. Apakah kemampuan anak sesuai dengan seusianya atau tidak?

Mengukur PQ seorang anak dilakukan dengan cara mengukur body mass index (BMI), pengisian kuesioner mengenai gaya hidup anak-anak dan bermacam aktivitas fisik seperti lari halang rintang, melempar bola ke dinding, dan sebagainya. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan kegiatan yang paling sering dilakukan anak-anak setiap hari adalah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan menonton televisi.

Sungguh bisa dikatakan tragis bila dibandingkan dengan zaman ayah-ayah kita semasa kecilnya. Kita bisa mendengar cerita bahwa mereka sering bermain jauh ke hutan hingga Magrib atau mereka sering bermain bola sambil berhujan-hujan ria. Anak zaman sekarang apalagi yang tinggal di kota mana pernah seperti itu???

terpenjara

Untuk mengisi waktu luangnya terdapat perbedaan di antara anak-anak di beberapa negara ASEAN. Misalnya anak-anak di Thailand menghabiskan waktu luangnya dengan membantu orang tua mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan anak-anak Jepang bermain di luar rumah.

Anak-anak di Vietnam lain lagi yaitu memakai waktunya untuk berolah raga, sedangkan anak Indonesia lebih suka membaca buku dan bermain komputer. Dari hasil berbagai riset tergambar anak-anak di luar Indonesia masih sempat melakukan berbagai kegiatan fisik yang menyenangkan di luar mengerjakan PR sekolah, namun anak-anak di Indonesia lebih suka melakukan kegiatan fisik minimum seperti membaca dan main komputer.

Berbagai riset mengungkapkan alasan anak-anak Indonesia, Thailand, dan Vietnam yang enggan bermain yakni dilarang orang tuanya karena takut pakaiannya kotor. Orang tua juga memiliki kekhawatiran berlebih apabila anak-anaknya main di luar rumah, padahal dengan bermain anak-anak bisa mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Anak-anak juga berkembang kemampuan komunikasi dan sosialnya.

Betapa sangat menyedihkannya kita saat ini, dunia kita, dunia masa muda kita, harus rela kehilangan saat-saat yang paling berharga yaitu saat dimana kita bebas bermain dan tertawa bersama teman-teman kita.

Kepada para orang-tua, guru-guru dan pengamat pendidikan, tolong perhatikan dengan serius hak kami untuk bebas bermain, bebas berkreatifitas dan bebas bersosialisasi. Karena tanpa itu semua maka saya jamin sebagus apapun program pendidikan tak akan bisa menghasilkan manusia-manusia yang cerdas dan berguna bagi bangsa dan negara.

Sekian, Terima kasih

Assalamu’alaikum wr, wb.

Entry filed under: Artikel, Umum. Tags: .

HENTIKAN PSB JALUR NON-AKADEMIK UN 2008 Belum Pasti Ada

2 Komentar Add your own

  • 1. deKing  |  Juli 14, 2007 pukul 1:16 am

    Menurut saya pribadi yang disoroti sebaiknya bukanlah belajar vs bermain melainkan masalah penanaman kesadaran akan tanggung jawab.
    Bermain sebenarnya merupakan suatu proses belajar juga …(bersifat konstruktif) tetapi jika kesadaran anak untuk bertanggung jawab tidak ada ya artinya bermain bersifat destruktif

    Balas
  • 2. deKing  |  Juli 14, 2007 pukul 1:17 am

    ralat…

    artinya bermain bersifat destruktif

    Yang benar adalah ini…

    akhirnya bermain bersifat destruktif

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Pelajar

Pelajarpun Boleh Bicara adalah sebuah blog yang dikhususkan bagi para pelajar di seluruh Indonesia untuk bicara bebas mengenai pendidikan. Jangan mau dijadikan kelinci percobaan pemerintah saja. Mari kita bicara!!!

Terbaca

  • 129,149 kali

Arsip

Pesan-Pesan

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

%d blogger menyukai ini: