Untuk Apa Kita Sekolah….???

Agustus 8, 2007 at 7:21 pm 46 komentar

Ada seorang ibu berkata pada anaknya, “Nak, kalau kamu sudah besar nanti kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapakmu yang supir angkutan itu, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia”. Sementara itu dilain pihak ada seorang ibu yang berkata, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi presiden sudah ada, dokter, tentara, polisi, insinyur, semuanya sudah ada, mendingan uang sekolahmu dibelikan domba saja untuk diternak dan dijual nantinya. Coba lihat si Edo, sekolah jauh-jauh sampai sarjana pas lulus nganggur dan jadi pedagang kaki lima…!”

Sadar atau tidak ternyata opini yang terbangun di masyarakat mengenai dunia pendidikan (sekolah) adalah seperti yang di atas. Masyarakat menilai bahwa salah satu alat ukur keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status sosial yang tinggi dimasyarakat. Indikasinya apakah seseorang itu bekerja dengan penampilan elegan atau tidak. Dan apakah seseorang itu bisa kaya dengan pekerjaannya atau tidak. Bila ada seseorang yang telah menempuh jenjang studi (SD, SMP, SMA, S1, S2, S3) tapi setelah itu dia menganggur atau berpenghasilan pas-pasan maka ia akan disebut telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang ditemui di masyarakat kita.

Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses? Mengapa dunia pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat, lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? Kalaupun yang diopinikan oleh masyarakat adalah kesalahan berpikir, lantas mengapa kualitas pendidikan kita tak lebih baik dari lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai dengan pembuatan undang-undang sistem pendidikan nasional? Atau inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa “SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah.” (ho…ho… ternyata bukan cuma agama yang candu)

Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih dari itu adalah pendidikan merupakan upaya bagaimana memanusiakan manusia. Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti ” lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan “sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya” apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan.

Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan orang lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan yang sangat cerdas.

Oleh sebab itu sudah saatnya dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan disetiap diri siswa.

Entry filed under: Artikel, Umum. Tags: .

DIBUKA LOWONGAN MENULIS DI BLOG INI…!!

46 Komentar Add your own

  • 1. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 3:11 pm

    sekolah memang cuma buat dapet ijasah trus dipake buat lamar kerja. bukan untuk intarkan atau ngasah otak

    Balas
  • 2. Ihsan  |  Agustus 9, 2007 pukul 3:16 pm

    Sekolah itu penjara dalam arti halus !!!
    Jam 7 pagi dipaksa masuk, terus sampai jam 12 dipaksa duduk jadi kambing conge bapak ibu guru, jam 2 siang baru dikeluarkan, itupun diberi PR berjubel.

    Wuih, cape deh….

    Balas
  • 3. hendra_ku  |  Agustus 9, 2007 pukul 7:22 pm

    klo saya sekolah biar pinter, bsa belajar bersosialisasi, dan merupakan amanah orng tua (bapak & ibu), supaya kelak saya bisa membahagiakan kedua orng tua saya dan keluarga dan bisa berguna bagi agama dan bangsa, amin
    doakan ya bro, semoga cita²ku terkabul

    oh iya bro, klo lg berkunjung di Semarang, jgn lupa, klo bisa mampir ke kampusku, aku kuliah di Undip, okay, thanks🙂

    Balas
    • 4. adtiya  |  Juni 23, 2011 pukul 5:47 pm

      amin semoga saja semua itu terkabul bgi kita semua

      Balas
  • 5. almascatie  |  Agustus 11, 2007 pukul 6:20 am

    sekolah hanya salah satu cara buat baca tulis aja kok…

    Balas
  • 6. Bedul  |  Agustus 11, 2007 pukul 6:44 am

    Bagi saya sekolah itu adalah jalan untuk mencapai kemuliaan. Dan tentunya apakah kemuliaan itu bisa tercapai atau tidak, itu kehendak Allah s.w.t. Kita hanya bisa berusaha.

    Saya sangat yakin dan percaya bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya dari orang lain.

    Makasih, tulisannya cukup menggugah pemikiran saya.

    Balas
  • 7. atmo4th  |  Agustus 13, 2007 pukul 5:08 pm

    Sekolah???

    Ini yang saya kerjakan di sekolah:
    duduk di belakang
    tidur, dengerin musik, ngobrol
    memaki guru [ maaf ]

    bagi saya sekolah nambah dosa..
    tapi di sekolah juga saya dapat kesenangan dan teman, serta banyak pelajaran tentang hidup, tentunya bukan dari kurikulum sekolah?

    Jadi? Pilih SMK, lebih baik, haha..
    – sebenarnya saya kecewa dengan kurikulum sekolah yang gak berubah 100 tahun ini –

    Balas
  • 8. caplang™  |  Agustus 14, 2007 pukul 11:36 am

    saya sekolah supaya dapet uang jajan…

    Balas
  • 9. ninoy  |  Agustus 14, 2007 pukul 2:02 pm

    hehe kesindir juga sih..karena saya sekolah itu ya ujung-ujungnya untuk mendapatkan pekerjaan kelak -in case kuliah ya- hemm tapi satu yang pasti, dari sekolah itu kita dapat ilmu..dan tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat..masalah nantinya jadi ‘orang’ apa ngga ya itu kembali ke usaha masing-masing dan gak lepas juga faktor keberuntungan which is..itu cuman Dia yang berkehendak🙂

    Balas
  • 10. mrlekig  |  Agustus 16, 2007 pukul 11:45 am

    sekolah hanya untuk mencari kerja??

    tulisan ini memang benar, memang telah ada pergeseran tujuan dan manfaat sekolah… kadang2 sekolah hanya mikirin nyari untung saja

    Balas
  • 11. lei  |  Agustus 16, 2007 pukul 11:46 am

    sekolah mah maen aja, blajar ketemu orang lain dan berinteraksi. sukur2 pinter beneran dan nambah modal bagusin CV.

    ah..tp modal utama kayanya karakter. ilmu mah bisa slalu di-upgrade.😀

    salam kenal yah!

    Balas
  • 12. papuaxxx  |  Agustus 18, 2007 pukul 8:42 am

    KAYAKNYA KESADARAN AKAN PENTINGNYA SEKOLAH LEBIH BAGUS DI PAPUA DECH 😀
    SAYANGNYA SARANA PENUNJANGNYA GA ADA. BAYANGKAN AJA NIH SEKOLAH DI PULAU JAWA DAH DI KENALKAN AMA INTERNET DAN DI PAPUA BUKU PELAJARAN AJA BANYAK YANG PAKE BUKU JADUL🙄

    Balas
  • 13. atmo4th  |  Agustus 19, 2007 pukul 6:10 am

    Wow, saya juga nih, selama kelas 2&3 gak pernah beli buku lagi, soalnya selain uangnya saya ambil [duuh, maaf mama], teryata sama aja kayak buku kaka saya yang udah kuning dan jadul,, jadi semangat ya rakyat papua. Kalau internet,.. otonomi khusus pemerintah harusnya udah bisa biki papua maju, tapi sayang duitnya..

    Balas
  • 14. hadiy  |  Agustus 24, 2007 pukul 11:10 pm

    Mh, menarik juga isi blogmu tentang dunia pendidikan.
    i really like it, but i still don’t know who u r.
    Sayang kamu sudah bukan pelajar lagi tapi mahasiswa.
    Trus gimana nasib tulisanmu ini nanti?

    Balas
  • 15. hadiy  |  Agustus 24, 2007 pukul 11:12 pm

    Oh ya, oke, bolehlah aku nglink…

    Balas
  • 16. tya  |  September 1, 2007 pukul 9:09 am

    uhm,awalny siyh pasti cm krn ADAT. tp kykny lama2 it jd kbthan. ga pny ilmu?mati aje loe.. swlny g pny ilmu=ktinggalan. tp y emg teteup siyh,jdny y bwt cr krja jg. tp kan still hv another reason bwt skul toh?😉

    Balas
  • 17. Joerig™  |  September 4, 2007 pukul 4:43 pm

    saya sekolah buat cari ilmu … *kok bisa aneh banget ya susunan kata2 itu*😕

    Balas
  • 18. benbego  |  Oktober 29, 2007 pukul 1:30 pm

    Jawabannya aneh semua…! yg namanya sekolah ya dah pasti cari ilmu, ngejar ijazah, lulus, cari pekerjaan ato nerusin kuliah. tp pada akhirnya tetap sama. jadi untuk apa kita sekolah? buat gue > membangun mental untuk tahan menghadapi kerasnya kehidupan. ingat, yg bodoh selalu tertipu, yg pinter jg sering menipu. jadi tinggal pilih aja mana yg baik menurut hati nurani lo? perbaiki niat! salam. Benbego😀

    Balas
  • 19. Abror IRM Medan  |  Desember 12, 2007 pukul 2:50 pm

    Saya setuju dengat tulisan ini. Paradigma berpikir masyarakat kita sudah seharusnya dirubah. Ending sekolah bukanlah untuk jadi PNS karena kalau tidak lulus bisa frustasi. idak hanya itu ukuran kepinyaran ditengah masyarakt kita juga memprihatinkan. Orang dianggap pintar ketika hanya pandai dibidang eksakta namun ketika bidang lain maka ia tidak mendapat tempat. Inikah cara berfikir masyarakat kita…??

    Balas
  • 20. StreetPunk  |  Desember 21, 2007 pukul 3:30 pm

    Hah!

    Masyarakat Indonesia sudah terlanjur mendoktrin diri ‘lebih bodoh dari bangsa lain’ sehingga menganggap bahwa sekolah adalah segalanya, nilai-nilai akademis adalah segalanya, that’s all.

    Padahal kalo ditengok ke luar, negara-negara lain, mereka mengembangkan apa yang mereka bisa, skill apa yang menonjol, itulah yang mereka jadikan sebagai penghasilan.
    Ahli main bola, kembangkan. Ahli bermusik, kembangkan. Mereka tidak terfokus pada sekolah dan segala kerumitannya, makanya bisa maju. Nggak seperti kita.

    Balas
  • 21. StreetPunk  |  Desember 21, 2007 pukul 3:42 pm

    Tapi, bagi yang masih sekolah, belajarlah baik-baik, aku bukannya mau menyindir cara berpikir masyarakat kita.
    Maksudnya, selepas dari sekolah atau kalau sudah lulus, cermatilah segala peluang yang menjanjikan. Cobalah hal-hal baru, karena kita kadang tak tau peluang yang ada di depan mata.
    Kalau merasa ada kemampuan di suatu bidang, kenapa tidak dicoba.
    Ada yang bersusah payah bersekolah untuk menjadi ahli akuntasi, tapi malah jadi businessman.
    Ada yang bersusah payah untuk menjadi wartawan, malah menjadi seorang blogger.
    Jadi intinya, kesuksesan ada di tangan kita.

    Balas
  • 22. uwiuw  |  Desember 23, 2007 pukul 9:26 pm

    kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah … betulkah begitu? serasa terlalu jargon euy buat sy😀 sorri kontra hahahahah [harus adakan yg begitu?]

    Balas
  • 23. anggoro  |  Desember 27, 2007 pukul 1:08 pm

    walaupun kita berusaha untuk mengembangkan apa yang kita bisa, dan benar2 berkembang. bagaimana caranya untuk kita agar sesuatu yang sudah berkembang pada diri kita bermanfaat, dapat mengahasilkan materi, manusia punya kebutuhan. jika tidak bisa, maka2 sia2 saja usaha kita. menurut saya ini kembali lagi ke pemerintah dan rakyat masing2.

    Balas
  • 24. Abror IRM MEdan  |  Desember 30, 2007 pukul 8:52 pm

    Kok tulisannya belum ada yang baru yach.., padahal saya senang banget lho lihat blog ini. Oh iya, apakah blog ini sudah disosialisasikan ke pelajar- pelajar atau guru- guru kita.., biar mereka semua tidak tertinggal nantinya dalam ilmu pengetahuan..??!!

    Balas
  • 25. purmana  |  Desember 31, 2007 pukul 5:59 am

    @ 23…

    Blog ini dikhususkan bagi pelajar dan tentunya harus memiliki kontributor dari pelajar pula sedangkan saya sendiri adalah mahasiswa, jadi bila ada pelajar yang tertarik untuk bisa menulis di blog ini silakan saja kirim e-mail ke geowana_yp@hotmail.com

    Tentunya ada tahap percobaan juga.

    Balas
  • 26. rona  |  Januari 21, 2008 pukul 8:27 pm

    sekolah?????
    lagi2 pemerintah dgn seenaknya membuat peraturan yang hanya merugikan anak sekolah!!!!!!

    Balas
  • 27. EcA  |  Maret 16, 2008 pukul 11:32 pm

    Sekolah iia??

    mnrut saya sekolah thu enaq bgt, cuZ’ qt bs dapet wawasan yg luas…(ceeillee)
    bagi kaum Pelajar..
    qt harus menjunjung tinggi pendidikan,
    tidakkah kau melihat orang tua mu begitu susah payah mencari nafkah hanya utk diri mu, tp dblakang mereka kau melakukan hal TERBODOH dskolah, cthnya MAKI GURU,CABUT,BLAJAR ehh MALAH deNGER MUSIIKK, sangat BODOH bukan???
    So,
    Manfaatin waktu mu.
    Kalau qita salah menggunakan Uang masih bs dPerbaiki,
    tp kalau salah mempergunakan Waktu,takkan bs d ULang lagi,
    jd manfaatkan Waktu uNtuk SEKOLAH..

    Balas
  • 28. Shien  |  April 14, 2008 pukul 12:49 am

    weleh2 EcA, enak ga enak tergantung guru2nya, lingkungan, pelajarannya, rutinitas, pergaulan dengan teman2, dsbnya. kalau berpikir seperti itu ma picik o^^ setiap org mang punya cara pola berpikir yang berbeda2, kita yang membentuk siapa diri kita melalui apa yang kita pikirkan. Masyarkat di sini kan memang mengaggung2kn ijasah, pendidikan yg tinggi tapi buntutnya ya cari uang yang banyak, status jabatan yang tinggi, dsbnya yang dianggap wah hebuat, sukses, dll!! kenapa tidak berpikir dasar bahwa tujuan dari sekolah dan semakin kita berpendidikan tinggi harus memiliki karakter yang baik, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, makhluk hidup lain, lingkungan, dsbnya. terserah yang mau sekolah y sekolah yang tidak mau sekolah y sudah, semua orang punya keputusan dalam menjalani idup dari pilihannya sendiri kok! siapa yang berani melawan arus juga siapa yang lebih mengikuti arus yang berarti ending2nya y air terjun (selamat atau kagak y tergantung dari kesadaran manusianya). pikirkan baik2 waktu 24jam walo terlewati masi bisa diperbaiki asalkan kita tidak pernah menyerah dan selalu berusaha istilah MADESU tidak ada lagi hanya mereka yang menyerahlah disebut seperti itu. tidak ada yang bodoh dan tidak ada yang berguna di dunia ini, asalkan kita tahu dari yang tidak tahu semua bisa kita manfaatkan dengan baik. Ngomong sana sama Bill Gates bilank BODOH ya sampe DO tapi bisa menjadi orang Hebat dan panutan bagi perkembangan masyarakatnya. inga semua ada positif dan negatif tapi yang terpenting HASILNYA.

    Balas
  • 29. anjani  |  April 16, 2008 pukul 7:58 pm

    buat aku sih , skola tuuh sarana sosialisasi yg paling ngasi pngaruh besar aja dalam hidup . ngga skola , hidup kmu gg bkal berwarna . ngga skola , kmu gg bkal tau apa itu HIDUP hhi xP . penting lah pkoknya skolah itu . . bisa dapet temen dan ilmu (slain yg ada di buku) lah pastinya🙂

    Balas
  • 30. Natalia  |  April 18, 2008 pukul 5:01 pm

    itu ya katamu ngga skola hidup ga bakal berwarna n gatau apa hidup itu, berarti seperti katak dalam termpurung dalam kehidupan yang serba formalitas. bagaimana dengan Thomas Alva Edison yg tidak sekolah? Andrie Wongso yang tidak tamat SD? apakah hidup mereka tidak berwarna? tergantung bung tergantung. tidak perna lihat berita ya? kasian dech loe. anak SD ada yang mati bunuh diri, SMP, dsbnya…zaman sudah berbeda bung jangan berpikir sempit, gw pengen liat loe ampe mana? buktikan!!!

    Balas
  • 31. Iwan  |  Mei 21, 2008 pukul 7:04 am

    Bukankah memang benar orang yang sudah mersekolah sampai si-s2 bahkan S-3 dst tapi kemudian nganggur itu memang kejadian yang salah? Sebagai manusia dia gagal memanfaatkan apa yang dimilikinya ( kesempatan bersekolah sampai seesai), dibandingkan orang lain yang tdk bernasib baik mendapat pedidikan tinggi, tapi hidupnya bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan? sekolah sampai tinggi kan biar hidup kitya lebih bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan.

    Balas
  • 32. Mufid  |  Juni 16, 2008 pukul 5:12 pm

    Siapa yang salah? Permasalahannya bukannya mencari siapa yang salah tapi memperbaiki apa yang ada. Saya agak sungkan berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Kenapa? Karena saya cenderung menyalahkan guru. Berapa banyak guru di Indonesia yang sangat tidak berkualitas sehingga menjatuhkan kualitas siswanya. Selama saya sekolah tidak sedikit saya diajar oleh guru yang tidak professional dan tidak berpengalaman. Mereka hanya bisa mencaci maki murid tanpa bisa membuat prestasi murid tersebut meningkat. Buat apa fasilitas yang bagus di sekolah, karena NYATANYA SAYA MELIHAT banyak sekolah yang memiliki fasilitas mewah seperti projector, notebook, dan AC, tapi mereka justru tidak dapat memanfaatkan fasilitas itu secara maksimal (ex: notebook saja tidak tahu cara menghubungkannya ke projector). Jadi intinya kalau bicara tentang pendidikan, coba perbaiki dulu gurunya. Guru yang tidak berkualitas dibuang saja. Dan satu lagi, perbaiki kurikulumnya. Saya sangat kecewa melihat kurikulum dan BUKU yang ada sekarang. Pertama kurikulum dimana masih sangat banyak sistematika belajar yang harus diperbaiki. Kedua adalah buku. Berapa banyak LKS yang salah ketik mulai dari jawaban sampai soal. Apalagi kalau melihat buku dan kurikulum komputer. Mau sampai kapan kita dibodohi oleh Microsoft? Memang software hanya Microsoft? Percuma saja Menristek mengembangkan IGOS kalau di kurikulum kita saja tidak diperdalam bagaimana dan apa itu sistem operasi Linux.

    Maju terus pendidikan Indonesia.

    Balas
  • 33. Budyas  |  Juli 11, 2008 pukul 6:46 pm

    saya jadi PNS pilih keluar aja. Tidak mandiri. Jadi wira usaha lebih enak

    Balas
  • 34. madreamer  |  Juli 21, 2008 pukul 7:48 pm

    Mas…tulisan ini ide dasarnya mirip sekali dengan apa yang saia tulis kemarin… silahkan Mas cek di link ini :
    http://duniapelajar.wordpress.com/2008/07/20/sekolah-untuk-cari-ilmu-atau-cari-duit/
    Moga2 kita bisa bertukar pikiran yah^^

    Balas
  • 35. NdaruAlqaz  |  Juli 28, 2008 pukul 10:16 pm

    cari pacar…..

    Balas
  • 36. redo alkholiq  |  Agustus 17, 2008 pukul 7:43 pm

    SekoLah Membang Bener Buat Nyari duit….
    buktinya banyak guru-guru yank naikin Murid nya demi duit…

    matre bangett….!!!
    pinter di sekolah belom berarti pinter di masarakat

    Balas
  • 37. redo alkholiq  |  Agustus 17, 2008 pukul 7:48 pm

    terkadang pemerintah tidak berpikir secara mendalam tentang pendidikan…
    ya iyalaha…!!! secara dia buat nilai UN 6 dan 6 pelajaran

    pemerintah ingin di bilang keren krn bisa ngejar malysia yank udah bisa pake nilai 7 . ya iyalah malaysia pake nilai 7 krn di sana udah cukup saran dan prasarana nya

    coba aja liad di indonesia….

    mau maju ..tapi g di saranain..
    terkadang malah ada guru guru yank g bisa ngajar dg baik dan benar……

    klo di kelas …anak” pada g bisa ..itu bukan kesalahan murid
    tapi jelas kesalahan guru..
    krn guru gagaL dalam mengajar..!!!

    Balas
  • 38. priscillamu  |  November 6, 2008 pukul 1:02 pm

    sekolah tinggi2 buat gw sebagai MODAL.
    modal buat masa depan.. sekolah hanya sebatas kasih pengetahuan ke murid2 dan murid2 lah yang kudu eksplorasi dari bahan dan materi yang ada.
    emank dengan kuliah ga menjamin masa depan anda bagus. tapi alangkah baiknya kita punya “senjata” untuk perang demi masa depan. siswa yang bengal memang nda lepas dari peran sekolah, tapi balik lagi peran keluarga lah lebih penting..
    jadi jangan mengumpat sekolah dan pendidikan..umpatlah murid yang nda bisa dan tidak mau berkembang..

    Balas
  • 39. eeeemmmmmmmm  |  Desember 10, 2008 pukul 9:09 am

    sekolah bkn buat nyari uang atau ijazah,tapi buat mengubah bagaimana cara kita berpikir lebih maju……!?!
    bagaimana negara bisa maju kalo penduduknya berpikir ky org purba………….

    Balas
  • 40. justin  |  Februari 16, 2009 pukul 2:32 pm

    emmmmmmmm … ……. ………..
    gagg ad hbsnya yahh , ,bahass seputar masalah pendidikan di negri qt ..
    kalau menurutq . .
    qt seharusnya mulai merubah arah pendidikan qt dari lingkup yang paling kecil . .yaitu dr diri qt sendiri . .qt harus meluruskan niat qt untuk sekolah yaitu untuk belajar,qt bs belajar banyak hal diskolah ,selain pelajaran2 akademis qt juga diajarkan untuk bs memecahkan suatu masalah,contohnya ya seperti yang sudah dicantumkan oleh artikel di atas.qt harus berpikiran positif,bahwa itu semua agar qt juga dapat memecahkan masalah mulai dari ruang lingkup sekolah yang hampir tiap hari qt jabanin…
    qt bisa mulai menyuarakan suara hati qt lewat majalah2 sekolah,lewat tes pidato yang sering bgt ditugasin oleh guru qt,,
    sekolah . .itu untuk cari ILMU dan untuk BEKAL QT DI MASA YANG AKAN DATANG . .

    BUKAN UNTUK MENCARI NILAI ATAUPUN UNTUK BEKAL MENCARI KERJA . .

    Balas
  • 41. dika  |  Juni 24, 2009 pukul 4:36 pm

    sekolah adalah jembatan buat cari duit,,,,,,,setuju?

    Balas
  • 42. Adityo  |  Agustus 12, 2009 pukul 11:23 pm

    Topik ini bikin gue melek lagi, padahal dah tidur2 ayam tdi, wkwkwkwk……..

    Tadi gw liat, ada yang ngomong bahwa bila ga skolah, maka hidup ga berwarna dan sebaliknya. Gue bilang gaya hidup berwarna atau tidak bukan ditentukan gimana atau setinggi apa lo skolah, tapi gimana lo nikmatin hidup. Bisa aja kita seperti Edison yang ga skolah tapi jadi penemu karna coba2, atau kayak einstein yang berbekal ilmu yang diperoleh di bangku kuliah bisa membuat bom atom. Dan mereka nikmatin aja tw………

    Trus gue setuju klo sekolah itu BUKAN untuk bertujuan untuk jadi PNS, Ngapain lo dapet gaji dari pemerintah yang lo tau korup dimana2 dan (mungkin) ga halal, kalo lo bisa bikin perusahaan dimana lo bisa ngegaji diri sendiri hingga akhir hayat? Tapi kenyataan sekarang, banyak temen2 gue menganggap sekolah=bank nilai untuk kerja, bukan bank ilmu untuk kerja, BEDAKAN!!!!!!

    Balas
  • 43. Alby khambara  |  November 18, 2009 pukul 6:50 pm

    Menurut saya, sekolah adalah alat untuk menginstropeksikan diri dengan pengetahuan dan langkah-langkah yang benar.
    Karna sekolah, saya sadar bahwa saya ini masih bodoh, masih perlu banyak belajar, ada banyak hal yang masih belum saya ketahui.
    Kepada para guru…
    Tingkatkan mutu mengajarmu agar anak didikmu benar-benar memamahami apa yang sedang di ajarkan.

    Balas
  • 44. handikas  |  Juni 1, 2010 pukul 10:48 pm

    Hmm, menurut hemat saya apa yang diajarkan di sekolah dengan kehidupan sehari-hari tidak ada keterkaitan. Jadi mengapa banyak pelajar yang ‘seharusnya’ (dalam arti sebenarnya) menginginkan ilmu.

    Kesimpulannya pentingnya belajar harus diutamakan.
    Sekolah hanya menjadi penunjang saja.

    Balas
  • 45. Chris  |  Januari 23, 2011 pukul 10:29 pm

    Jadi ingat jalan sekolah sd smp dan sma dulu…

    Balas
  • 46. Budi Prasetyo  |  Mei 13, 2013 pukul 1:46 am

    Esensi dari sekolah itu sendiri diantaranya adalah membentuk Karakter seseorang dan mengasah akal sehingga terwujudnya ide atau kekreatifan seseorang dalam memecahkan masalah tetapi esensi tersebut akan hilang bilamana motivasinya mencari Harta/uang apalagi kekuasaan! Alhasil pendidikan nya tidak tercerahkan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Pelajar

Pelajarpun Boleh Bicara adalah sebuah blog yang dikhususkan bagi para pelajar di seluruh Indonesia untuk bicara bebas mengenai pendidikan. Jangan mau dijadikan kelinci percobaan pemerintah saja. Mari kita bicara!!!

Terbaca

  • 129,149 kali

Arsip

Pesan-Pesan

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

%d blogger menyukai ini: